Tempatnya Berbagai Info Penulis

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 November 2019

Babad Tanah Arthara

Ini hanyalah cerita yang penulis buat, didalamnya hanya berisi hayalan penulis. Oh iya ini hanya link untuk menuju wattpad.


Di sebuah desa pada lereng gunung Saramu, Arman hidup tenang dan damai. Meski negaranya memiliki konflik dengan negara lain desanya masih tetap damai. Namun kehidupannya berubah setelah kedatangan pria misterius yang terluka dan pingsan di rumahnya. Pria itu mengatakan negara akan hancur.Pemberontakan dimana-mana, pejabat banyak yang korupsi, dan rakyat semakin menderita.
Tak lama kemudian, Arman mengetahui bahwa dirinya salah satu keturunan Raja. Merasa memiliki tanggung jawab sebagai keturunan Raja, dan tanpa alasan yang jelas dirinya dijadikan penjahat oleh negara terpaksa dia harus meninggalkan desanya. 
Hidup Arman yang damai kini berubah menjadi petualangan yang hebat untuk menyelamatkan negaranya dan menyelesaikan konflik dengan negara lain. Sanggupkah ia melakukan petualangan untuk menyelamatkan Negara ?

******
Sebelumnya saya meminta maaf bila ada banyak kesalahan kata, diksi, karena ini pertama kali saya menulis di wattpad. selamat menikmati


Senin, 17 September 2018

Kepergian Sang Aktivis Setelah Meneriakkan Reformasi




Krisis moneter dan fiskal yang terjadi pada 1998 seolah menggores luka lama yang telah lama sirna. Meski tinggal kenangan, namun peristiwa itu seakan masih melekat dalam bayangan rakyat bangsa ini, terutama bagi kalangan mahasiswa.
Kala itu, perjuangan demi perjuangan banyak dilakukan guna menggulingkan kekuasaam tirani yang diniasi oleh kaum mahasiswa. Kaum intelektual muda secara berani berteriak, memaksa Soeharto turun dari tonggak kekuasaannya yang tegak berdiri selama 32 tahun lamanya. Banyak korban berjatuhan akibat aksi para mahasiswa itu.
Salah satunya Elang Mulya Lesmana, seorang mahasiswa Universitas Trisakti, Fakultas Arsitektur angkatan 1996. Elang, begitulah ia kerap dipanggil, remaja berusia 19 tahun yang dikenal sebagai sosok yang ceria dan pandai.
Malam itu, tepat sehari sebelum tragedi itu terjadi hujan turun dengan derasnya. Diantara suara rintik air berjatuhan diselingi dengan suara klakson saling bersahutan. Elang dan Frankie, sahabat karib Elang berboncengan menuju rumah Elang. Mereka berencana mengerjakan tugas kuliah bersama. Cukup lama keduanya mengendarai motor dengan memakai jas hujan, dan banyak terlihat kendaraan yang lalu lalang di jalan.
Sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai dirumah Elang yang berda di daerah Ciputat, Tangerang. Sesampainya di rumah Elang, keduanya langsung melepas jas hujan mereka dan memasukkan motor yang mereka kendara ke ruang garasi Elang.
Tak lama mengeringkan diri, Elang dan sahabatnya menuju kamar Elang untuk mengerjakan tugas. Malam itu Elang nampak tak seperti biasanya, dirinya yang merupakan sosok yang ceria, nampak hilang. Ia menjadi sosok yang pendiam dan suka melamun. Tak hanya itu, ia seperti mengacuhkan pertanyaan Frankie.
“Oi, Lang. Tumben kau diam saja sejak kita naik motor ?” Frankie mengawali pembicaraan dengan sebuah pertanyaan kepada Elang setelah keduanya saling membisu sejak perjalanan ke rumah Elang.
“Aku baik-baik saja,” balas Elang yang terlepas dari lamunannya.”Cepatlah kita selesaikan tugas kita,” lanjutnya dengan nada sedikit kesal.
“Ya baiklah, aku ingin segera cepat selesai,” sahut Frankie.
Saat Elang dan Frankie mulai mengerjakan tugas hujan mulai mereda. Tetesnya kini tinggal gerimis, suara dentuman air yang keras perlahan berubah menjadi dentuman yang halus. Frankie merasakan keanehan lagi pada diri sahabatnya, Elang yang merupakan salah satu mahasiswa pintar di Universitasnya tiba-tiba tak bisa menyelesaikan soal yang mudah, bahkan bagi Frankie saja yang merupakan mahasiswa biasa saja di kampusnya tak kesulitan dalam menyelesaikannya.
“Fran kau bisa soal ini,” dengan menyodorkan bukunya.
“Coba aku lihat,” dilihatnya oleh Frankie soalnya lalu berucap “Tumben kau tak bisa Lang, biasanya kau tak ada kendala dalam mengerjakan soal seperti ini. Ada apa denganmu Lang.” Frankie mulai merasa ada yang aneh lagi dari sahabatnya.
“Aku tidak apa, mungkin karena habis kehujanan, tubuhku merasa sedikit kedinginan dan kurang bisa fokus.” Balasnya.
Tak hanya itu saja keganjilan pada diri Elang yang Frankie rasakan, biasanya sahabatnya sering bercerita dan bergurau, waktu itu hanya diam membisu dan melamun. Berkali-kali Frankie menyadarkan Elang dari lamunannya, dan bertanya apakah ada masalah, namun Elang hanya menjawab tidak, dan ia terlihat seperti mengacuhkan pertanyaan Frankie. Memang malam itu hawa dingin menyelimuti, dan keduanya habis kehujanan dalam perjalanan kerumah Elang, Frankie mengira jika Elang hanya tidak enak badan saja dan menghilangkan perasaan cemas terhadap sahabatnya.
Jam telah menunjukkan pukul 10, dan keduanya telah menyelesaikan tugasnya. Mereka berniat untuk mengembalikan tenaga mereka yang telah terkuras seharian itu. Guna menyongsong hari esok, hari kuliah berlangsung dimana diadakan ujian tengah semester. Tak lama keduanya diatas kasur mereka dengan cepat berada di negeri kapuk.
Keesokan harinya tepat pada tanggal 12 mei, hari begitu cerah. Setelah semalaman hujan mengguyur, pagi itu embun masih tersisa diantara dedauan dan genangan air masih terlihat dijalan-jalan. Langit terlihat cerah biru, bersamaan dengan mentari yang menyinarkan cahayanya dengan terang.
Pukul 9 pagi, Elang dan Frankie bersiap diri untuk berangkat menuju kampus. Sebelum pergi, ibunda Elang berpesan kepada keduanya agar hati-hati dalam mengendarai motor. Mendengar pesan ibundanya, Elang membalas dengan candaan.
“Ma, jangan gitu dong, Elang kan sudah besar. Jadi malu aku,” canda Elang.
“Kamu ini Lang, Mamamu berpesan agar hati-hati kamu malah malu.” Jawab ibunda Elang membalas gurauan putranya .”Cepatlah berangkat, nanti bisa terlambat.” Lanjutnya . Dan langsung saja mereka berdua berangkat menuju kampus.
Hari itu, rencananya akan diadakan ujian tengah semester, namun dibatalkan karena seluruh mahasiswa diharapkan ikut andil bagian dalam demonstrasi di kampus. Elang dan Frankie memang telah berniat untuk ikut serta dalam aksi damai tersebut. Frankie langsung mengeluarkan jas almamater yang telah disiapkannya, begitu juga seharusnya Elang. Tetapi dirinya lupa membawa jas almamater. Frankie melihat Elang seperti orang yang banyak pikiran, sehingga membuat lupa akan suatu hal.
Frankie menghampiri Elang dan bertanya, “Kenapa kau Lang ?”
“Aku sepertinya lupa bawa jas kampus.” Jawabnya cuek sambil mencari-cari jas kampus ditasnya, namun tidak ketemu juga.
“Sudahlah kalau kau lupa membawa, nanti kita pinjam saja. Temanku ada yang punya 2.” Ujar Frankie memberikan solusi. Lalu Frankie meminjamkan jas milik temannya untuk Elang.
Sebelum ikut berorasi, Frankie mengajak Elang melihat-lihat proyek kos-kosan orang tua Frankie yang tengah dibangun tepat disebelah gedung kampus. Tak butuh waktu lama untuk menempuh lokasi proyek. Dan keduanya menghabiskan waktu sekitar 1 jam untuk melihat proyek yang tengah dibangun itu.
Hari mulai menjelang siang , matahari memancarkan sinarnya dengan cukup terik. Dan keduanya hendak kembali ke kampus. Saat hendak menuju kampus pensil Elang tiba-tiba terjatuh dari tas yang dia bawa. Sontak salah seorang tukang bangunan yang mengetahui pensil Elang jatuh langsung berteriak sambil berlari menuju kearah Elang dan Frankie.
“Mas . . . mas barangnya ada yang jatuh.” Teriak tukang bangunan tersebut dengan berlari.
Elang dan Frankie langsung balik badan, dan Elang berujar, “Oh, terima kasih pak, maaf merepotkan.”
“Iya mas, mari mas,” balas si tukang bangunan itu dan kembali menuju pekerjaannya.
“Pensil ini jadi benda kenang-kenangan untukku,” ujar Elang. Lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju kampus.
Saat keduanya melewati sebuah halte didekat kampus, entah mengapa tiba-tiba ada seorang perempuan yang tengah menangis tersedu-sedu ketika Elang melewatinya. Tapi keduanya seolah tak perduli dengannya, hanya dianggap seorang yang terganggu jiwanya oleh Elang maupun Frankie.
Jam telah menunjukkan pukul 12.30, orasi akhirnya dimulai. Namun ketika orasi tengah berlangsung, ditengah-tengah parkiran kampus Frankie berjumpa lagi dengan sosok perempuan gila yang menangis. Diantara rapatnya peserta demo disana, perempuan itu kembali menangis saat berada di dekat Elang. Tetapi Elang dan Frankie menghiraukan begitu saja keanehan tersebut, mereka hanya fokus dengan orasi yang tengah dilaksanakan.
Orasi mulai memanas, bendera merah putih dikibarkan setengah tiang, lagu Indonesia dinyanyikan dan pidato-pidato dikumandangkan untuk menegakkan reformasi. Itulah tuntutan para peserta orasi. Reformasi, penurunan Presiden Soeharto, perbaikan ekonomi, dan masih banyak hal diungkapkan dalam orasi tersebut. Seluruh peserta orasi berteriak “Reformasi”, “turunkan soeharto dan antek-anteknya.”
Hari semakin sore, perlahan seluruh mahasiswa mulai bergerak keluar kampus menuntut untuk turun ke jalan dengan tujuan menyampaikan aspirasinya di gedung DPR. Namun aksi para mahasiswa dihadang oleh para aparat keamanan yang mulai berdatangan. Para aparat membuat barikade dengan tameng dan pentungan yang terdiri dua lapis barisan.
Hal ini membuat aksi para mahasiswa terganggu, lalu dilakukan negosiasi antara kedua belah pihak. 3  jam telah berlalu dan negosiasi belum membuahkan hasil. Selama 3 jam itu pula para demonstran menghabiskan waktu di jalanan. Beberapa mahasiswa menyempatkan mengabadikan momen tersebut dengan berfoto bersama. Tak ketinggalan Frankie juga ingin mengambil foto bersama dengan Elang dan satu lagi sahabatnya, Adny.
“Ad, Lang, kita foto dulu yuk !” ucap Frankie terhadap kedua sahabatnya itu.
Lalu mereka bertiga mengambil foto bersama dengan meminta bantuan salah seorang temannya yang membawa kamera.
Negosiasi tidak berhasil dilakukan, aparat memaksa para demonstran untuk kembali menju kampus. Hal itu membuat orasi memanas, para demonstran menolak untuk kembali menuju kampus. Para demonstran yang merasa kecewa, mereka mulai memberontak maju menembus barikade aparat kepolisian. Dilain pihak pada saat yang hampir bersamaan datang tambahan aparat untuk membantu menghadang para demonstran.
Suasana orasi semakin memanas, awalnya orasi tersebut yang merupakan aksi damai kini berubah menjadi sebuah kericuhan. Aparat kepolisian memaksa seluruh peserta orasi kembali menuju kampus.  Aparat menembakkan gas air mata kepada para demonstran, dan tembakkan peringatan ke udara. Sontak hal ini membuat para demonstran lari kocar-kacir. Mendengar sebuah suara tembakan, ribuan mahasiswa serentak berlari menuju kampus.
Para peserta orasi langsung berlari kembali menuju kampus. Melihat kondisi yang tak terkendali, Frankie berpesan kepada dua sahabatnya, Elang dan Adny.
“Sepertinya aksi kita mulai ricuh, aku tak yakin kita bisa kembali bersama ke kampus.” Kata Frankie, ”Saat kita sudah sampai di kampus, kita akan bertemu di depan pos satpam dekat gerbang!”
“Ya baiklah,” jawab Adny dan Elang hanya mengangguk saja.
Setelah Frankie berpesan pada kedua sahabatnya, ketiganya langsung terpisah akibat keributan para demonstran yang bergerak kembali menuju kampus.
 Lokasi Frankie berada di paling belakang dekat dengan para polisi, melihat masih banyak mahasiswa yang melewati gerbang kampus. Frankie berinisiatif untuk memanjat pagar untuk masuk ke kampusnya. Ketika dalam posisi memanjat, dirinya merasakan rasa panas di perutnya, lalu ia sadar kalau dirinya tertembak peluru karet para aparat kepolisian.
Setelah berhasil memasuki kampus, Frankie langsung mencari-cari keberadaan kedua sahabatnya. Seperti yang dijanjikan ketiganya jika sudah berada di kampus akan bertemu di pos satpam. Bergegas ia menuju tempat itu, namun hanya dirinya sendiri disana, tak ada Elang maupun Adny. Tak lama berselang, Adny datang. Adny datang dengan tergesa-gesa, nafasnya masih terengah-engah tidak karuan.
“Fran . . . aku mendengar kabar buruk,” ucap Adny dengan membungkuk menyandarkan tangannya pada lututnya dengan nafasnya terdengar seperti sudah berlarian.”Aku dengar dari temanku, kalau Frankie tertembak, dan sekarang ia sedang dibawa ke rumah sakit.”
Mendengar penjelasan Adny, Frankie begitu terkejut. Dengan perasaan kesal Frankie menuju Rumah Sakit Sumber Waras, dimana semua korban luka dilarikan ke RS itu.
“Tunggu Fran, aku ikut,” teriak Adny.dan keduanya segera berlari menuju rumah sakit yang tak jauh dari kampus.
Sesampainya di rumah sakit itu, Frankie dan Adny langsung mencari-cari sahabat mereka Elang, setelah ketemu mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Disana mereka menemukan sosok sahabatnya yang telah terbujur kaku dan dingin terbalut kain dengan terbaring di kamar jenazah.
Disibaknya kain penutup yang menyelubungi tubuh Elang. Frankie langsung merasa sedih dan terpukul, melihat jenazah sahabatnya yang telah pergi meninggalkann dirinya. Tiba-tiba air mata mengalir dari mata Frankie dan  membasahi pipinya, ia langsung diam terjatuh duduk sambil menangisi kepergian sahabatnya . Tak hanya Frankie saja yang tersedih Adny juga meneteskan air matanya disamping jenazah sahabatnya itu.
Kemudian Frankie mengecup kening sahabatnya, dengan perasaan tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Sahabat yang telah menghabiskan waktu bersama kemarin sekarang sudah terbujur dingin dan kaku.
Luka peluru Elang menembus jantungnya hingga punggung. Peluru tajam ditemukan  di dalam tas punggung yang ia bawa. Didalam tas itu ada sebuah botol parfum yang juga pecah terkena peluru. Parfum itu sebenarnya ialah kado ulang tahun untuk teman wanitanya yang belum sempat Elang berikan. Hari itu segenap keluarga besar Universitas Trisakti, merasa terpukul dengan kepergian salah satu putra terbaiknya, Elang Mulya Lesmana.Tak hanya Elang saja yang meninggal akibat tragedi itu, ada 3 mahasiswa lain yang menjadi korban.
Setelah kepergian 4 orang aktivis reformasi. Demosntrasi besar-besaran kembali terjadi, hari demi hari mahasiswa dan para aktivis reformasi terus melakukan aksi demi menggulingkan kekuasaan tirani. Kematian Elang tidak membuat para aktivis menjadi takut, mereka malah semakin berani. Dan akhirnya pada tanggal 18 Mei mahasiswa berhasil menguasai gedung DPR, dan beberapa hari kemudian mereka berhasil menjatuhkan kekuasaan kokoh yang berdiri selama 32 tahun lamanya.
Frankie dan semua keluarga Universitas Trisakti merasa senang, akhirnya upaya mereka meneriakkan perubahan akhrinya terwujud.
“Elang sahabatku, pengorbananmu tidak sia-sia. Sekarang kekuasaan tirani telah runtuh demokrasi telah berhasil kita rebut. Tatanan baru akan segera tercipta. Reformasi berhasil kita ciptakan. Dengan ini kematianmu akan menjadi sejarah di massa depan. Kau akan selalu kami kenang.” Itulah ucapan senang Frankie dalam hatinya.
Lalu setelah pemimpin baru terpilih, ia memberikan gelar pahlawan kepada Elang. Tak hanya Elang begitu juga dengan 3 korban tewas lainnya. Mereka berempat dikenang sebagai Pahlawan Reformasi. Karena atas pengorbanan mereka reformasi bisa terwujud.
Elang, dia bukanlah seorang atlet apalagi seorang professor, bukan politikus bukan juga aktivis Negara. Dirinya hanyalah seorang pemuda berumur 19 tahun, yang telah tertembak oleh peluru yang dibeli dari uang rakyat ketika dirinya meneriakkan perubahan dan perbaikan negara republik tercinta dengan tidak mengharapkan imbalan kepada siapapun atas pengorbanan miliknya yang paling penting, yaitu sebuah nyawa.
Elang, dirinya tidak mengharapkan dijadikan seorang pahlawan apalagi untuk dikenang, tetapi bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang benar apabila tidak bisa menghormati jasa orang yang telah gugur dalam perjuangan dan kepetingan bangsa dan rakyat banyak.
“Selamat jalan sahabatku Elang, Engkau telah mengorbankan jiwa dan ragamu demi kepentingan rakyat, engkau telah mengajarkanku arti mencintai rakyat, kita tak sempat bertemu di Pos Satpam yang membisu.”



Selasa, 23 Mei 2017

Kesungguhan untuk Bisa Kuliah Gratis

Namaku Rendi, aku hanyalah seorang anak desa. Aku anak tunggal, kedua orang tuaku hanya petani yang menggarap sawah orang lain atau yang biasa disebut petani penggarap, karena itu penghasilannya tidak seberapa. Aku bersekolah di Sekolah Menengah Akhir, tepatnya di SMA 2 Tanggulangin. Aku sekarang berusia 17 tahun atau kelas 2 SMA, predikat ketua OSIS sudah kuraih, siswa teladan kugapai. Teringat olehku akan cita-citaku pada saat aku kecil, yang sering ditertawakan oleh teman-teman Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, bahkan teman temanku sekarang, yang sempat membuatku merasa cita-citaku tersebut tidak mungkin bakal terwujud untuk selamanya. Namun aku sadar bahwa Allah akan memberikan jalan kepada hambanya yang mau berusaha keras dan menjalani perintahnya. Sebagaimana pepatah arab mengatakan Man Jadda Wa Jadda, siapa yang bersungguh-sungguh ia akan berhasil. Itulah kata motivasi yang aku pegang, kata-kata itulah yang membuatku bangkit dari keterpurukan.
“Zaman sekarang mana ada kesuksesan yang tidak memakai uang pelicin, buang semua pemikiran bodohmu itu Ren” ucap Indra temanku kepadaku, karena aku berkata kepadanya bahwa aku ingin kuliah tanpa biaya.
”Tidak semua jalan begitu Ndra, aku yakin tidak semua orang sukses berhasil dengan uang. Banyak juga orang diluar sana yang sukses tanpa melakukan hal yang demikian” jawabku sedikit tegas dengan suara pelan.
”Terserah apa pendapatmu menurutku hanya sedikit saja orang yang bisa sukses tanpa uang sogok, negeri kita ini negeri yang lucu, banyak orang sukses karena sogokan, sedikit saja yang sukses hasil murni” ujar Indra yang membuatku sedikit patah semangat. Ucapan itu juga yang mengakhiri obrolan kami selama 30 menit lamanya.
Bel istirahat berbunyi nyaring, menandakan ada kesempatan untuk mengisi perut yang kosong. Memberikan waktu 15 menit kepada para murid untuk mengisi tenaga untuk pelajaran selanjutnya. Saat itu aku langsung menuju ke ruang BK untuk berkonsultasi dengan guru bimbingan konseling untuk membicarakan harapanku yang sempat sedikit membuatku melupakan harapanku untuk kuliah di kedokteran tanpa biaya. Saat aku hendak ke ruang BK ada seseorang yang memanggil namaku dari belakang.
“Ren, Rendi” mendengar ada yang memanggilku akupun menoleh ke belakang, ternyata itu temanku Fitri.
”Ren besok aku ada undangan motivasi soal kemalasan remaja di aula kabupaten, bisa temani aku gak Ren?” tanya Fitri.
”Hmmmmm” aku berpikir sejenak mengingat apakah aku ada jadwal ada tidak.
”Ayolah Ren, please !“
”Iyalah aku akan datang, bilang saja kalau kamu tidak ingin sendirian disana, oleh karena itu kamu membujukku dengan segitunya, kan?” Tebakku, membuat sahabatku itu tertawa kecil
“Kau bisa saja, iya iya aku akui. Hahaha . . .jemput aku ya”gelaknya.
“Oke lah jam setengah 3 ya aku kerumahmu”
“Siap”
Setelah itu kamipun berpisah, aku menuju ruang BK dan Fitri ke kantin. Sampai di ruang BK aku berkonsultasi kepada guru BK apakah bisa aku yang keadaan ekonominya tergolong kelas menengah bisa membiayai biaya kuliah nanti.
“Kalau kamu memang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi tapi tidak mempunyai biaya, kamu bisa kuliah melalui jalur SNMPTN, dengan syarat nilai rapot kamu tidak boleh turun dan harus terus naik selama 5 semester”
”Apa tidak ada sekali biaya bu” tanyaku.
“ Insyaallah tidak ada nak, mungkin cuma biaya buat keperluan kamu sehari-hari” jawab guruku yang membuatku lega.
“Apa selama ini nilai saya ada yang turun bu?” tanyaku lagi
“Untuk nilai rapot kamu alhamdulillah belum ada yang turun, tapi nilai harian kamu selama beberapa bulan ini agar turun, mungkin karena kamu sebagai ketua OSIS, tapi kamu jangan patah semangat masih ada kesempatan untuk memperbaiki”
“Bu terima kasih atas info yang ibu berikan sangat membantu saya, saya akan memperbaiki nilai saya yang turun”
“Iya sama-sama”
Beberapa menit bel masuk berbunyi dan akupun mengikuti pelajaran, saat jam 2 siang bel pulangpun berbunyi. Saat pulang aku memikirkan perkataan guru BKku tadi bahwa nilai harianku turun. Keesokannya hari-hari disekolah seperti biasa, bel pulang berbunyi pada pukul 2. Jam menunjukkan pukul 2.30. aku ingat aku ada motivasi mengenai kemalasan remaja di aula kabupaten bersama Fitri.  Langsung saja aku berangkat kerumah Fitri dan ke aula kabupaten bersamanya. Setelah sampai disana 5 menit kemudian acara dimulai. Acara motivasi itu sangat memotivasiku, dalam acara itu sang motivator menjelaskan
“Manusia itu bisa diibaratkan sebagai sebuah pisau, ada yang tajam ada juga yang tumpul. Yang tajam itu bagaikan orang yang pintar tetapi yang tumpul itu bagaikan orang biasa saja. Pisau yang tajam tidak digunakan sungguh-sungguh dan tidak pernah diasah tidak akan mampu memotong sebuah kayu, sedang pisau yang tumpul digunakan dengan sungguh-sungguh dan diasah setiap hari maka akan berguna untuk memotong sebuah kayu. Manusia juga seperti itu yang pintar tetapi tidak bersungguh-sungguh dan malas dia tidak akan sukses sedang orang biasa saja yang bersungguh-sungguh dan rajin maka ia pasti akan sukses. Seperti pepatah arab mengatakan Man Jadda Wa Jadda, siapa yang bersungguh-seungguh ia akan berhasil. Dan ingat yang berhasil bukanlah orang yang pintar tapi yang berhasil ialah yang bersungguh-sungguh”
Itulah kata dari motivator yang sangat menginspirasiku. Aku memang bukan tergolong siswa yang pintar aku termasuk siswa yang biasa-biasa saja. Setelah menanamkan dihatiku bahwa yang berhasil adalah yang bersungguh-sungguh itu merubah hidupku. Kini aku semakin rajin belajar, aku belajar secara otodidak karena aku tidak mau merepotkan kedua orang tuaku untuk mengikuti bimbingan belajar di lembaga-lembaga tertentu. Selain belajar aku juga mengimbanginya dengan doa dan ibadah.
Tidak hanya itu mulai sekarang setiap istirahat aku lebih sering ke perpustakaan daripada ke kantin. Meskipun aku menjabat sebagai ketua OSIS yang kegiatanku banyak, alhamdulillah aku masih bisa mengatur waktu belajarku. Selain itu aku juga sering berkonsultasi dengan guru-guru mengenai nialiku.
Aku sedikit merasa sedih sebab selama satu bulan ini nilai harianku belum meningkat. Di dalam hati aku berpikir kenapa masih belum meningkat apa aku kurang belajar atau kurang sungguh-sungguh dalam belajar. Akupun juga bercerita kepada teman-teman tapi teman-teman cuma mengatakan aku cuma kurang beruntung saja. Hal ini terpikirkanku berhari-hari, sampai suatu hari HPku berdering dan ada sebuah pesan dari seseoarang yang namanya Farah. Itulah nama kontak yang mengirim pesan tersebut ke aku. Gadis ini pernah menyukaiku dan mungkin sekarang masih menyukaiku. Tanpa pikir panjang akupun membuka pesan tersebut
“Terkadang sebuah impian mengalami jatuh bangun untuk menguji apakah kita layak untuk mendapatkannya. Tak jarang kita mengalami halangan bahkan kegagalan, namun janganlah menyerah. Allah pasti memberikan jalan kepada hambanya yang bersungguh-sungguh dan bertawakal kepadanya”


Itulah pesan singkat yang membuatku bangkit lagi, dengan pesan dari orang yang menyukaiku tersebut membuatku semakin yakin bila aku bersungguh-sungguh aku pasti bisa kuliah melalui jalur SNMPTN. Setelah itu belajarku semakin aku tambah dan saat menerima rapot aku bersyukur nilaiku mengalami kenaikan. Sampai akhirnya pada kelas 3 SMA nilaiku terus mengalami kenaikan, dan aku merasa bahagia nilai Ujian Nasionalku memuaskan. Guru-guru dan teman-teman mengucapkan selamat kepadaku atas keberhasilanku dan akhirnya aku bisa berkuliah di perguruan tinggi UI melalui jalur undangan. Tidak hanya guru-guru yang bangga kepadaku orang tuaku juga merasa bangga atas prestasi yang kuraih da orang tuaku juga senang bahwa aku tidak perlu membayar dalam melanjutkan pendidikanku.

Minggu, 02 April 2017

Sarananja


Kisah ini dimulai diawali pada runtuhnya kerajaan besar Manusia pada tahun 1156 kalla. Keruntuhan kerajaan ini disebabkan oleh 2 orang putra kerajaan yang saling berperang demi merebut tahta ayahnya. Sang kakak bernama Ardhi meiliki pasukan bernama Galtar army dan sang adik Arthan memiliki pasukan Rhods army, peperangan ini terjadi selama sekitar 100 tahun yang diteruskan oeh keturunan mereka. Namun sang cucu dari sang adik Arthan memilih lari dari takdirnya dan kabur menuju desa terpencil saat ia masih kecil. Kemudian ia ditemukan oleh Earnest, seoarng penghuni desa Daruan. Kemudian ia mengadopsinya dan membesarkannya seperti anak sendiri, Sang anak yang bernama Arghan. Ia dilatih oleh Earnest banyak hal, seperti ilmu bela diri, ilmu senjata, ilmu pengetahuan, dan banyak lainnya. Hal ini karena Earnest merupakan guru beladiri, sekaligus orang pandai yang berbakat. Selama berlatih 15 tahun, Arghan berumur 24 tahun. Saat ia berumur 24 ia meyakinkan dirinya untuk memberi tahu ayah angkatnya siapa dia sebernarnya dan ingin menyelamatkan kekacauan oleh kerajaan Rowdia, dengan pasukan Galtar army yang memiliki kekuatan hebat. Sang raja Rowdia adalah orang dingin nan kejam ia bernama Rown Agrares. Ia akan menindas bangsa yang tidak mematuhinya, meskipun itu bangsa manusia, kobold (makhluk setengah anjing), dan bangsa merdeka lainnya di Sarananja. Melihat hal ini Arghan meminta izin kepada ayah angkatnya untuk mengikuti pasukan kebenaran atau yang lebih dikenal dengan Soran army, yang merupakan pasukan yang melawan kejahatan dari Rowdia. Setelah ia masuk pasukan ini, Arghan menunjukkan bakat yang hebat sampai ia diangkat menjadi kopral. Kemudian suatu malam pasukan ini diserbu dan Argan dapat melarikan diri. Setelah melarikan diri ia meminta pertolongan pada kota terdekat, namun beberapa kota telah dikuasai Rowdia sehingga ia tidak bisa memasuki kota. Melihat hal ini ia kembali ke hutan dimana desanya berada, sama seperti kota lainnya kota ini juga dikuasai oleh Rowdia dan ia melihat ayah angkatnya dibunuh oleh pasukan Rowdia, melihat hal ini Arghan sangat marah dan ia akan berjanji akan memerdekakan Sarananja sama seperti 100 tahun yang lalu. Langkah pertama yang ia lakukan adalah mencari orang yang sepemikiran dengannya, akhirnya setelah mengembara banyak tempat ia menemukan petarung yang hebat dan memiliki keinginan yang sama dengannya. Ia bernama Blade, arghan berkata
“Kau adalah petarung sekaligus pengguna pedang yang hebat, siapa namamu dan apa tujuannmu sampai berlatih sekeras itu”
“Tujuanku adalah memerdekakan semua bangsa dalam dunia ini, agar kelak adikku yang masih kecil tidak memiliki nasib yang sama sepertiku. Aku ingin agar kelak adikku bisa hidup dengan damai”
“Lalu apa kau akan melakukan itu sendirian”
“Meskipun aku kuat, tapi menurutku aku tidak akan bisa melakukannya sendiri. Aku butuh bantuan banyak orang, tetapi semua orang disini takut akan kekejaman Rown Agrares. Sehingga tidak ada yang ingin bergabung denganku”
“Bagaimana jika aku membantumu”
“Jangan bercanda anak kecil kau masih muda, kau terlalu lemah”
“Kalau begitu akan aku buktikan kalau aku tidak lemah dan kita sama-sama melawan kerajaan Rowdia”
“Baiklah bagaimana kalau kita bertarung satu lawan satu”
Setelah itu mereka bertarung dengan tangan kosong, pertarungan itu terjadi dengan sengit. Dan akhirnya Arghan kalah, namun Blade merasa anak ini memiliki kemampuan yang hebat akhirnya ia yakin kalau ia bisa membantunya.
Setelah menemukan teman Arghan menginginkan banyak teman dan juga ingin memiliki pasukan, setelah memikirkan lama Blade memberi saran agar ia menuju ke hutan Eastwood. Disana tinggal kaum elf yang damai, tidak akan ada yang akan menyerang tempat ini karena kerajaan peri ini berada jauh dalam hutan. Akhirnya mereka memilih menuju ke Barat menuju hutan Eastwood. Setelah sampai dihutan ini Blade dan Arghan disambut oleh Raja peri yang agung bernama Etelind, sang raja menanyakan perlu apa sampai manusia meuju ke kerajaan peri. Mereka meminta para peri untuk membantu mereka, pertama raja peri ini menolak namun setelah obrolan yang lama akhirnya ia mau membantu Arghan. Ia mengirim prajurit terkuatnya untuk ikut bersama Arghan untuk mengikuti perjalanannya ia bernama Lazuard pemanah elf terkuat di bangsanya. Dan raja elf juga akan mengirim pasukannya apabila Arghan meminta bantuan. Setelah ia memiliki pasukan akhirnya ia mencoba untuk menguasai kembali desanya, dengan meminta 1000 pasukan kepada raja peri. Ia mencoba merebut kembali desanya. Penyerangan ini dilakukan pada malam hari, ini karena pada saat malam hari sedikit pasukan Galtar yang sedang berjaga. Penyerangan ini dilakukan dengan menyerang desa dari arah barat, dan timur dimana di arah barat ini hanya sebagai umpan saja. Setelah seluruh pasukan Galtar menuju barat semua kemudian pasukan elf menyerang dari arah timur. Dan dengan pertarungan ini Desa Daruan telah merdeka kembali, melihat hal ini akhirnya banyak warga desa yang ingin menjadi prajurit dan ingin memerdekakan seluruh bangsa di Sarananja agar kelak anak cucu mereka bisa hidup dengan damai. Semua lelaki dari desa Daruan berjumlah 500 orang, mereka dilatih menjadi tentara yang hebat dan berbakat. Setelah raja Rown mengetahui ini dia mngirim 3000 pasukan untuk mengahncurkan desa Daruan, mengetahui hal ini Arghan, Blade, dan Lazuard memilih untuk mengosongkan desa dan kabur ke pegunungan Amaru. Setelah pasukan Galtar sampai di desa, mereka hanya melihat ini hanyalah desa yang kosong. Akhirnya pasukan ini pulang tanpa membawa apa-apa. Di dinginnya gunung Amaru Arghan berpikir dimana ia dapat membuat tempat yang aman dari serangan Rowdia. Akhirnya ia menemukan tempat yang cocok, yakni bekas peninggalan kerajaan kuno Samaru. Akhirnya rombongan Arghan menuju ke selatan dimana kerajaan kuno ini berada, setelah beberapa hari berlalu ia sampai dikerajaan Samaru ini, ini memang tempat yang seram karena sudah lama ditinggal oleh penghuninya. Akhirnya semua orang membersihkannya dan memperbaikinya, setelah seminggu kerajaan Samaru ini menjadi lebih baik dan tempat ini juga strategis, karena tanahnya subur, dekat dengan laut, dan juga kota-kota didekat kerajaan ini merupakan kota damai. Setelah itu Arghan mengirim surat kepada raja elf untuk juga tinggal disini, ia hanya mengirim pasukan untuk membantunya. Mengetahui argan sudah memiliki pasukan ia memutuskan merekrut ahli strategi, ia juga memiliki pasukan yang banyak bernama Elfredo. Ia tinggal di hutan besama pasukannya, ia memilih bersembunyi daripada melawan raja yang kejam, karena ia memilih kesematan para prajuritnya. Argan langsung menuju hutan Huanran, dimana Elfredo tinggal. Mulanya Elfredo menolak, tapi setelah dibujuk akhirnya ia mau bergabung dengan Arghan.
“El, bergabunglah dengan kami”
“Untuk apa, agar pasukanku mati sia-sia, ha!”
“Untuk apa mati sia-sia, tidak ada kematian yang sia-sia. Ini semua demi kemerdekaan si Sarananja”
“Kemerdekaan itu hanyalah mimpi saja”
“Itu semua tidak mimpi kalau kita bisa melakukannya, siapa yang yakin pasti ai akan bisa”
“Itu hanyalah kata-kata, bukan kenyataann”
“Semua itu berawal dari mimpi, kita pasti bisa mencapai mimpi itu bila kita bersatu. Tidak terpecah-pecah seperti ini.”
Tanpa mengucap apa-apa akhirnya Elfredo kabur dan tidak menjawab ajakan Arghan. Setelah itu arghan merasa putus asa dan ia ingin kembali ke kerajaannya, setelah sampai setengah jalan ke kerajaannya ia dihadang oleh 10.000 pasukan berkuda. Setelah sang pemimpin pasukan turun dan membuka pelindung kepalanya. Argan kaget bahwa ia adalah Elfredo. Elfredo menyatakan ia dan pasukannya akan bergabung dengan Arghan. Arghan sangat senang akan hal ini, akhirnya ia pulang dengan pasukan yang banyak dan seorang ahli strategi.
Kabar ini juga terdengar oleh raja Rowdia, ia memutuskan untuk menyerang kerajaan ini. pertama ia ingin menguasai kota-kota terdekat di Amaru. Setelah itu mereka akan menyerang Amaru dengan 5.000 pasukan, mengetahui akan diserang Elfredo memiliki strategi yang bagus, ia membuat suara yang menggema di kastil sehingga musuh akan mengira jumlah pasukan Amaru sangat banyak, mengetahui hal ini mereka melarikan diri takut akan serangan Amaru karena banyaknya pasukan. Setelah itu Argan memilih untuk memerdekakan kota-kota sekitar namun ia gagal, karena pasukannya sedikit.
Melihat hal ini ia memilih bantuan bangsa lain, pertama ia meminta kaum kobold. Karena mereka merasakan penderitaan yang sama kaum kobold menerima ajakan Argan. Setelah itu argan meminta bantuan kepada kaum Centaur, kaum ini juga sama dengan kaum kobold yang langsung menerima permintaan Argand. Namun ia harus mengambil keputusan yang sulit saat mengajak bangsa dwarf untuk bekerja sama. Itu karena mereka keras kepala, akhirnya dengan bujukan apabilda mereka telah berhasil dwarf akan diberikan kekayaan yang banyak. Hal ini argan lakukan demi kemerdekaan sarananja. Merasa sudah memiliki pasukan yang kuat argan merasa minder saat tahu bahwa musuhnya juga dibantu oleh kaum orc, goblin, troll, dan juga minotour.
Mengetahui hal tersebut argan mencari lagi bangsa yang akan membantunya, Blade menyarankan agar ia merekrur 5 wizard rune element, mereka adalah 5 bersaudara yang masing masing wizard memiliki elemnt tertentu, elem itu adalah air, tanah, angin, api, dan petir. Mereka hidup di 5 tempat berbeda yakni bukit tengah, bukit barat, timur, selatan, dan utara. Mereka memang tidak peduli dengan hal apapun namun mereka tidak suka pada raja yang biadab. Akhirnya mereka mambantu arghan. Meski arhan memiliki 5 wizard element rowdia juga memiliki wizard yang melegenda yakni darknest eater, yakni penyihir jahat berelemen kegelapan. Raja ini memiliki pasukan kuno, yakni Ghohul, ghohul adalah makhluk kerdil yang cepat dan mematikan.
5 Penyihir menyarankan agar argan juga merekrut orang bunian, yakni orang yang memiliki kekuatan magis sehingga ia tidak terlihat. Orang bunian memiliki kekuatan setara  orang prajurit. Keberadaan mereka berada pada celah gunung tempat tersebut bernama, Wantira tempat yang kono megah, namun tak dapat dilihat. Untuk dapat meliat harus berdian dalam tempat ini pada malam hari dan tidak melakukan hal hal yang tidak senonoh. Akhirnya mereka dapat masuk ke tempat ini, mengetahui ada tamu araj Wantira Nadinrda ingin bertemu dan apa keperluan mereka. Mengetahui adanaya raja yang biadab raja Wantira memutuskan membantu, karena menurutnya pasti ia mengahncurkan alam. Raja Wantira ini sangat menyukai alam, sehingga ia argan, karena banyaknya kerusakan yang diakibatkan Raja Rowdia.
Setelah itu bangsa hobbit meminta perlindungan kepada Kerajaan Amaru, Argan dengan senang hati menerimanya. Ia tahu bangsa hobbit bukanlah suku petarung, tapi ia melatih mereka agar juga bisa melawan.

Memiliki pasukan yang banyak akhirnya Argan dapat menguasai satu persatu kekuasaan Rowdia. Sampai akhirnya pada tahun 1286 ia memutuskan menyerang Kerajaan Rowdia. Setelah terjadi peperanga yang lama, terjadi selama 7 hari akhirnya kerajaan ini dapat dikuasai dan seluruh negeri Sarananja hidup damai dengan Raja Baru mereka, Raja Argan.
Back To Top