Tempatnya Berbagai Info Penulis

Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 September 2022

Makna Leksikal dan Gramatikal

Buku

Makna Leksikal

Makna leksikal adalah makna kata yang didasarkan pada kata yang sesungguhnya atau makna sebenarnya, memiliki sifat tetap dan bisa berdiri sendiri, yang berarti tidak berhubungan dengan konteks atau terlepas dari konteks. Leksikal berasal dari kata “leksikon” yang berarti kamus. Sehingga makna leksikal adalah makna yang terdapat dalam kamus. Makna leksikal tidak mengandung makna tersirat di dalamnya.

Prosedur pemaknaan atau komponen makna leksikal adalah sebagai berikut :

  • Penamaan (naming) atau penyebutan (labeling), menggunakan lambing yang berwujud satu kata berdasarkan pengalaman dan pengetahuan seseorang.
  • Parafrasa, menganalisis komponen makna lebih terperinci dengan melihat deskripsinya.
  • Mendefinisikan (definition), pengembangan dari parafrasa untuk menjelaskan makna agar lebih rinci.
  • Mengklasifikasikan (classified), menghubungkan dengan kelas kata, kelas kata tersebut dapat berupa cirinya.

Makna kata tidaklah tunggal, satu simbol data mewakili lebih dari satu padanan kata yang beragam. Makna leksikal dibagi atas beberapa jenis, yakni :

Sinonim

Sinonim adalah persamaan kata. Kata yang secara leksikon (terdapat dalam kamus) berbeda tapi memiliki persamaan kata.

Contohnya :

Besar -  agung

Pria - laki-laki

Perempuan - wanita

Antonim

Antonim adalah lawan kata. Kata yang secara leksikon memiliki makna yang berlawanan atau bertolak belakang.

Contohnya :

Maju - mundur

Panas - dingin

Siang - malam

Homonim

Hononim atau persamaan bunyi, adalah kata yang secara leksikon memiliki bunyi dan bentuk yang sama namun memiliki makna yang berbeda. Contohnya kata bulan memiliki bunyi dan bentuk yang sama tetapi memiliki makna berbeda. Bulan dapat diartikan sebagai satelit alami bumi. Kata bulan juga dapat diartikan sebagai satuan penanggalan.

Hiponim

Hiponim adalah kata yang maknanya terdapat atau tercakup banyak kata didalamnya yang sifatnya lebih umum.  Kata yang memiliki makna hiponim mewakili banyak yang yang mengakibatkan generalisasi. Contohnya planet dapat mewakili kata lain seperti bumi, mars, venus.

Meronim

Meronim adalah bagian atau anggota penyusun sesuatu. Meronim adalah kata yang secara leksikon merupakan bagian yang mewakili sesuatu secara keseluruhan. Singkatnya makna kata tersebut dapat mewakili makna lain yang lebih menyeluruh. Contohnya gading merupakan meronim dari gajah.

Makna Gramatikal

Makna gramatikal adalah makna yang timbul karena gramatika atau tata bahasa dalam bahasa Indonesia. Makna gramatikal muncul setelah dihubugkan dengan kalimat. Makna gramatikal dapat terjadi karena adanya afikasi (imbuhan), reduplikasi (pengulangan), komposisi, pembentukan frasa, klausa, serta kalimat. Makna gramatikal tidak dapat berdiri sendiri karena berkaitan dengan satuan bahasa lainnya. Makna gramatikal dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yakni :

Parafrasa

Parafrasa adalah pengungkapan kembali suatu tuturan dari sebuah tingkatan atau macam bahasa menjadi yang lain tanpa mengubah pengertian. Secara sederhana parafrasa adalah menyusun kembali kata-kata baru dengan mempertahankan makna aslinya.. Contohnya Jowy adalah anak tunggal. Kalimat tersebut setara dengan makna “Jowy tidak memiliki saudara kandung”.

Entailmen

Makna yang tercipta dari proses pembentukan yang juga hubungan dengan makna lainnya.  Suatu makna dapat menjadi ringkasan untuk makna lain yang berhubungan. Contohnya, “Akira sekarang tidak bekerja” sama dengan “Akira saat ini pengangguran”.

Praanggapan

Praanggapan merupakan makna kata yang ditimbulkan dari sebuah anggapan atau asumsi. Contohnya orang Indonesia ramah.

Kontradiksi

Makna kata yang bertolak belakang satu dengan makna kata lainnya. Kontradiksi menimbulkan makna kata pertentangan. Contohnya “Orang miskin itu mempunyai rumah megah”.

Tautologi

Tautologi adalah istilah yang merujuk pada makna yang dihasilkan bernilai ketetapan.  Makna kata ini berkaitan dengan fakta dan benar-benar sesuai keadaan sebenarnya tanpa diubah. Contohnya “Es terasa dingin”

Inkonsistensi

Makna kata yang tidak selaras antara analogi dengan objek yang dianalogikan. Ketidakselarasan tersebut terjadi karena makna kata tidak sepadan atau timpang. Contohnya “Mahasiswa lebih pintar dari anak TK”.

Anomali

Makna kata yang menimbulkan penyimpangan karena tidak dapat diterima secara umum atau dipandang tidak logis. Contohnya “Ayahku melahirkan”.

Ambigu

Ambigu adalah makna kata yang mengandung multitafsir (beberapa makna). Makna yang ditangkap antara satu orang dengan yang lain dapat berbeda arti. Makna ambigu juga bisa disebut makna ganda.  Contohnya “Amada makan dengan ikan” kalimat tersebut dapat bermakna “Amada makan dengan lauk ikan”, atau juga bisa bermakna “Amada makan bersama dengan ikan”.

Senin, 07 Januari 2019

Pengertian, Ciri, dan Syarat Paragraf


Pengertian Paragraf

Paragraf adalah bagian dari teks atau karangan yang tersusun atas beberapa kalimat yang saling berkaitan antar satu kalimat dengan kalimat yang lain sehingga menjadi kesatuan yang utuh. Didalam paragraf biasanya terdiri atas kalimat utama yang ide pokok atau pokok pikiran. Ada juga kalimat penjelas yang merupakan penjelasan dari kalimat utama.

Ciri-ciri Paragraf

-Kalimat pertama dalam sebuah paragraph ditandai dengan bagian yang menjorok ke dalam (kanan) sebanyak 5 ketukan spasi.
-Satu paragraf terdiri atas sebuah kalimat utama dan beberapa kalimat penjelas.
-Menggunakan pikiran utama yang dinyatakan dalam kalimat utama.
-Menggunakan pikiran penjelas yang dinyatakan dalam kalimat penjelas.

Syarat Paragraf yang Baik

1.Paragraf yang baik hanya memiliki satu ide pokok di kalimat utama yang dijelaskan oleh beberapa ide penjelas di dalam kalimat penjelas.
2.Syarat berikutnya adalah adanya kohesi, yaitu kesatuan paragraf. Kesatuan paragraph maksudnya paragraf harus dapat dibangun dengan satu pokok pikiran yang jelas.
3.Koherensi atau kepaduan paragraf. Jadi antar kalimat harus saling berhubungan atau berkaitan. Tidak berdiri sendiri ataupun terlepas satu sama lain. Untuk memenuhi kekoherensian bisa menggunakan alat penanda hubungan. Alat penanda itu bisa berupa :
            a.Konjungsi atau tanda hubung
            b.Kata gantu tunjuk
            c.Kata ganti orang dan variannya
            d.Mengulang kembali frasa atau kata kunci paragraph tersebut
4. Menggunakan jenis atau pola paragraf yang sesuai.

Rabu, 17 Oktober 2018

Teks Editorial (Pengertian, Struktur, Kaidah Kebahasaan, Hal yang Perlu Diperhatikan, Langkah Membuat dan Contoh)


Pengertian Teks Editorial

Teks Editorial adalah artikel utama yang ditulis oleh redaktur koran yang merupakan pandangan redaksi terhadap suatu peristiwa (berita) aktual, sedang menjadi sorotan atau pembicaraan publik, fenomenal, dan kontroversial (menimbulkan perbedaan pendapat).
Teks editorial pada umumnya terdapat pada koran ataupun majalah. Pengungkapan teks ini harus dilengkapi dengan bukti, fakta, maupun alasan yang logis agar pembaca atau pendengar bisa menerimanya. Permasalahan yang dibahas dalam teks editorial adalah permasalahan yang berkaitan dangan peristiwa atau berita yang sedang hangat dibicarakan (aktual), fenomenal, dan kontroversial (politik,ekonomi,sosial budaya,hankam, dll) yang terjadi baik di dalam negeri maupun di luar negeri yang sedang hangat dibicarakan di Indonesia.

Struktur

Struktur umum teks editorial meliputi,
1.Pengenalan Isu
Pengenalan isu merupakan bagian pendahuluan teks editorial. Fungsinya adalah mengenalkan isu atau permasalahan yang akandibahas dalam bagian berikutnya. Pada bagian pengenalan isu disajikan peristiwa persoalan aktual, fenomenal, dan kontrovesial.
2.Penyampaian pendapat/argumen
Bagian ini merupakan bagian yang berisi tanggapan redaksi terhadap isu yang sudah diperkenalkan sebelumnya.
3.Penegasan
Penegasan dalam teks editorial berupa simpulan, saran atau rekomendasi. Di dalamnya juga terselip harapan redaksi kepada para pihak terkait dalam menghadapi atau mengatasi persoalan yang terjadi dalam isu tersebut.

Kaidah Kebahasaan Teks Editorial

Kaidah kebahasaan teks editorial adalah sebagai berikut:
a.Kalimat retoris. Kalimat retoris adalah kalimat tanya yang tidak ditujukan untuk mendapatkan jawabannya. Contohnya :
Benarkah pemerintah tidak tahu atau tidak diberi tahu mengenai rencana Pertamina menaikkan harga elpiji?
b.Kata-kata populer, tujuan penggunaan kata-kata populer agar mudah dimengerti oleh khalayak umum. Sehingga pembaca tetap merasa rileks.
c.Kata ganti penunjuk yang merujuk pada waktu, tempat, peristiwa, atau hal lain yang menjadi fokus ulasan. Contoh :
-Sungguh, kenaikan harga itu merupakan kado yang tidak simpatik, tidak bijak, dan tidak logis.
-Berdasarkan simpulan rapat itulah, Presiden kemudian membuat keputusan harga elpiji 12 kg yang diumukan pada hari Minggu kemarin.
-Rasanya mustahil kalau pemerintah, dalam hal ini Menko Ekuin dan Menteri BUMN tidak tahu, tidak diberi tahu serta tidak dimintai pandangan, pendapat, dan pertimbangannya.
d.Konjungsi kausalitas
Juga banyak digunakan, seperti sebab, karena, oleh sebab itu. Hal ini terkait dengan penggunaan sejumlah argumen yang dikemukakan redaktur dengan masalah yang diulas. Contoh :
-Masyarakat menjadi terkaget-kaget karena kenaikan tanpa didahului sosialisasi.
-Malah boleh jadi ada politisi yang mengkategorikannya sebagai reaksi yang cenderung bersifat pencitraan sehingga terbangun kesan bahwa pemerintah memperhatikan kesulitan sekaligus melindungi kebutuhan rakyat.
Perbedaan Opini dan Fakta
Fakta adalah hal, keadaan, peristiwa yang merupakan kenyataan atau sesuatu yang benar-benar terjadi. Dengan kata lain, fakta merupakan protet tentang keadaan atau peristiwa. Oleh karena itu, fakta tidak dapat dibantah karena dapat dilihat, didengar dan diketahui oleh banyak orang. Tetapi, fakta bisa berganti jika ada fakta lain yang lebih akurat.
Fakta yang disajikan dalam teks editorial berupa peristiwa nyata dan bisa juga data-data terkait dengan peristiwa yang dibahas. Contoh kalimat fakta :
a.Pertamina menaikkan harga elpiji tabung 12kg lebih dari 50 persen.
b.Akibatnya, sampai ditingkat konsumen harganya menjadi Rp 125.000 sampai Rp 130.000
c.Bahkan di lokasi yang relatif jauh dari pangkalan, mencapai Rp 150.000 hingga Rp 200.000
Kalimat fakta ada dua macam  yaitu,
a.Fakta umum
Contoh : Semua makhluk hidup pasti mati.
a.Fakta khusus  (mengandung 5W + 1H)
Contoh : Pada tanggal 14 Agustus 2018 terjadi gempa berskala 7,0 SR di Lombok,  NTB yang menewaskan lebih dari 400 korban jiwa.
Berdasarkan contoh kalimat fakta diatas, kamu dapat mengetahui bahwa kalimat fakta berisi informasi mengenai peristiwa yang terjadi.
Selain fakta, teks editorial juga dilengkapi dengan opini yaitu, tanggapan yang mendukung peristiwa yang sedang dibahas. Jika fakta tidak terbantahkan, maka opini masih bisa diperdebatkan. Opini dalam teks editorial dapat berupa penilaian, kritik, prediksi, harapan, dan saran penyelesaian masalah.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan

Dalam menulis teks editorial ada beberapa yang yang perlu diperhatikan yaitu,
a.Topik
Topik yang diangkat dalam teks editorial merupakan peristiwa yang sedang menjadi sorotan (aktual), fenomenal, dan kontroversial (menimbulkan perbedaan pendapat) di kalangan masyarakat.
b.Struktur
Struktur teks perlu diperhatikan saat kita menulis sebuah teks editorial agar pembahasan masalah yang diangkat, ditulis secara runtut dari hal yang umum menuju yang lebih khusus, dari pengenalan permasalahan sampai penutup.
c.Kaidah Kebahasaan
Kebahasaan dalam penulisan teks editorial perlu diperhatikan agar teks menarik untuk dibaca dan khalayak umum dengan mudah mencerna apa yang ingin disampaikan suatu redaksi dalam teks editorial.
d.Penyampaian Argumen
Argumen yang di sampaikan  harus sesuai dengan topik yang dibahas, logis , faktual.

Langkah-Langkah Menulis Teks Editorial

Langkah-langkah menulis teks editorial adalah sebagai berikut:
1.Memilih Topik
Pemilihan topik diambil berdasarkan isu yang akan menjadi dasar penulisan editorial. Pemilihan isu juga disertai dengan topik yang menarik minat baca masyarakat. Contohnya saja, kenaikan BBM, kekeringan di berbagai daerah, dan lain-lain.
2.Menetukan Tujuan
Sebelum merangkai teks editorial, kita harus menentukan tujuan ditulisnya teks editorial.
3.Mengumpulkan Data
Opini yang ditulis dalam editorial perlu disertai dengan data pendukung berupa fakta yang berkaitan dengan isu yang ditulis dalam editorial. Jadi, isi tulisan tidak sekedar opini saja. Selain itu, teori dan pendapat ahli pun perlu dipaparkan agar lebih berbobot.
4.Menyusun Kerangka Teks Editorial
Setelah semua data yang didapatkan dari berbagai sumber terkumpul, kita bisa merancang kerangka teks editorial dari masalah yang sedang diangkat dengan bantuan data dan informasi yang telah terkumpul.
5.Mengaitkan Bagian-bagian Editorial dan Mengembangkannya
Penyusunan editorial perlu dirembukkan dengan anggota redaksi agar dapat menghubungkan antara isu atau topik yang perlu disepakati bersama.Kembangkanlah teks editorial dengan memperhatikan hal-hal yang sudah didiskusikan tersebut.
6.Memperbaiki Isi Teks Editorial Termasuk Isi dan Kaidah Kebahasaannya
Editorial tersebut harus berisi kejelasan yang disampaikan dengan akurat serta tidak menyerang pihak lain. Paragraf disusun dengan menggunakan kalimat yang efektif dan kata-kata yang lugas.
7.Publikasi
Setelah teks editorial direvisi maka dapat dipublikasikan di media massa, umumnya media cetak.

ContohTeks Editorial

Perpes No 20 Tahun 2018 Mengancam Tenaga Kerja Lokal
Belakangan ini topik mengenai tenaga kerja asing marak diperbincangkan. Apalagi setelah Presiden Jokowi menandatangani Perpres No 20 Tahun 2018 tentag Tenaga Kerja Asing. Kebijakan ini menuai polemik di masyarakat. Pasalnya PP ini akan mempermudah masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia.
Seiring dengan itu, gelombang protes disuarakan sebagai respon terhadap pengesahan PP tersebut. Salah satunya dari Konfederasi Serikat Buruh Indonesia (KSPI) dan Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (ASPEK).
Mereka menilai PP ini dianggap mengancam tenaga kerja lokal , yang berakibat pada persaingan kerja di Indonesia semakin ketat dan berpotensi menambah angka pengangguran di Indonesia.
Sementara itu, disaat yang bersamaan ketersediaan tenaga kerja di Indonesia masih sangat besar. Data terakhir yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukkan jumlah pengangguran di Indonesia diatas 7 juta (BPS, 2018). Mengingat fakta tersebut sebaiknya pemerintah tidak mengesahkan PP tentang tenaga kerja asing tersebut.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berpendapat jika Perpres tersebut bisa mendorong investor menanamkan modanya di Indonesia. Menurut kami untuk meningkatkan penanaman modal di Indonesai sebaiknya pemerintah tidak menggunakan kebijakan ini, karena akan merugikan parapekerja lokal, utamanya pekerja kasar. Lebih baik pemerintahmencari alternatif lain untuk meningkatkan investasi.
Selama ini, sudah bukan rahasia lagi jika kompetensi TKA lebih mumpuni daripada tenagakerja lokal. Sering terjadi pabrik-pabrik tertentu memilih memperkerjakan TKA daripada tenaga kerja lokal. Melihat hal ini, alangkah lebih baik pemerintah meningkatkan kualitas tenaga kerja lokal agar bisa mumpuni dalam memenuhi criteria lapangan pekerjaan yang ada sehingga tidak perlu mengimpor TKA.
Jika memang terpaksa PP ini dilaksanakan, sebaiknya pemerintah member batasan tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia. Guna melindungi kaum pekerja lokal agar pekerjaan mereka tidak diambil oleh para pekerja asing.


Kamis, 27 September 2018

Teks Cerita Sejarah (Pengertian,Jenis, Ciri, Struktur, Unsur Kebahasaan, Nilai, dan Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Menulis Teks Cerita Sejarah)


Pengertian Teks Cerita Sejarah

Cerita sejarah adalah cerita yang di dalamnya menjelaskan dan menceritakan tentang fakta kejadian masa lalu yang menjadi latar belakang terjadinya sesuatu dan memiliki nilai sejarah. Contoh : Kemelut Majapahit
Selain teks sejarah, juga terdapat novel sejarah
Novel sejarah adalah cerita yang di dalamnya menjelaskan dan  menceritakan tentang fakta kejadian masa lalu yang menjadi latar belakang terjadinya sesuatu yang memiliki nilai sejarah.  Namun, novel tersebut dikembangkan dengan sudut pandang yang lain dan dibumbui dengan imajinasi penulis. Contoh : Legenda Surabaya

Ciri-ciri teks cerita sejarah (faktual)

- Disajikan secara kronologis atau urutan peristiwa
- Bentuk teks cerita ulang atau recount
- Sering menggunakan konjungsi temporal
- Berisi fakta atau kejadian yang benar terjadi

Ciri-ciri novel sejarah

- Disajikan secara kronologis atau urutan peristiwa
- Bentuk teks cerita ulang atau recount
- Sering menggunakan konjungsi temporal
- Terdapat unsur fiktif namun berdasarkan sumber yang  jelas/valid
- Cerita berdasar fakta yang dibumbui dengan imajinasi penulis
- Kejadian dalam cerita membutuhkan bukti atau jejak sejarah
- Karena berupa novel, bahasanya harus memperhatikan unsur estetika

Struktur Teks Cerita Sejarah

Struktur teks cerita sejarah terdiri dari 3 bagian :
1.Orientasi : berisi pengenalan setting dan tokoh
2.Pengungkapan peristiwa : berisi pengungkapan peristiwa-peristiwa secara kronologis (urutan waktu)
3.Reorientasi  : berisi pengungkapan komentar/opini penulis
Sedangkan struktur teks pada novel sejarah sama dengan novel lainnya yaitu :
1.Pengenalan situasi cerita (exposition, orientasi) : berisi pengenalan setting dan tokoh
2.Pengungkapan peristiwa : awal peristiwa sebelum konflik
3.Menuju konflik (rising action) : munculnya konflik
4.Komplikasi : penanjakan konflik
5.Puncak konflik (turning point) : klimaks dari cerita
6.Penyelesaian (evaluasi, resolusi) : bagaimana tokoh mengatasi konflik
7.Koda : komentar penulis (bersifat opsional)

Unsur Kebahasaan Teks Cerita Sejarah

Bahasa yang digunakan dalam novel sejarah bahasa yang digunakan yakni konotatif dan emotif, sedangkan pada cerita sejarah bahasa yang digunakan yakni denotatif. Sekalipun menggunakan bahasa konotatif dan emotatif, bahasa yang digunakan tetap dapat dipahami oleh pembaca. Hal ini dikarenakan pengarang merekayasa bahasa beragam gaya bahasa, pencitraan, dan beragam pengucapan.
Beberapa kaidah kebahasaan yang berlaku pada novel sejarah sebagai berikut.
- Menggunakan banyak kalimat bermakna lampau
Contoh:
Prajurit-prajurit yang telah diperintahkan membersih gedung bekas asrama telah menyelesaikan tugasnya.
- Menggunakan banyak kata yang menyatakan urutan waktu (konjungsi kronologis, temporal).
Konjungsi temporal (konjungsi yang berkaitan dengan waktu dan digunakan untuk mengurutkan peristiwa secara kronologis) ada 2 :
a.Konjungsi temporal sederajat : (lalu, kemudian, sebelumnya, sesudahnya, dan lain-lain)
Contoh:
Bayangkara gugur dibunuh dengan cara licik oleh kaki tangan Rakutih selanjutnya Mahisa terbunuh oleh Gagak Bongol.
Maka nasi sekepal itu amblas ke dalam lantai kemudian terdengar bunyi berkerotok.
Keberadaan Borobudor sebenarnya telah diketahui penduduk lokal diabad ke-18 yang sebelumnya tertimbun material Gunung Merapi.
b.Konjungsi temporal tak sederajat : menghubungkan 2 atau lebih peristiwa yang tidak sederajat. (setelah, sebelum, ketika, apabila dll)
Contoh :
Setelah juara gulat itu pergi, Sang Adipati bangkit dan berjalan tenang-tenang  masuk ke kadipaten.
Konon ketika Calon Arang marah dan menebar tenung, kabut amat tebal membawa penyakit tak hanya turun di wilayah tertentu.
- Menggunakan banyak kata kerja yang menggamabarkan suatu tindakan (kata kerja material)
Contoh :
Setelah juara gulat itu pergi Sang Adipati bangkit dan berjalan tenang-tenang         masuk ke kadipaten.
- Menggunakan banyak kata kerja yang menunjukkan kalimat tak langsung sebagai cara menceritakan tuturan seorang tokoh oleh pengarang
Contoh:
Riung samudera menyatakan bahwa ia mssih bingung dengan semua penjelasan Kendit Galih tentang masalah itu.
- Menggunakan banyak kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh (kata kerja mental)
Contoh:
Gajah Mada sependapat dengan jalan pikiran Senopati Gajah Enggon.
- Menggunakan banyak dialog. Hal ini ditunjukkan oleh tanda petik ganda("...") dan kata kerja yang menunjukkan tuturan langsung
Contoh:
"Mana surat itu?"
"Ampun, Gusti Adipati, patik takut maka patik bakar"."Surat apa,Nyi Gede, lontar atau kertas? "
"Lon... Lon... Lon... kertas barangkali, Gusti, patik tak tahu namanya. Bukan lontar. "
- Menggunakan kata kata sifat untuk menggambarkan tokoh, tempat, dan suasana.
Contoh:
Gajah mada mempersiapkan diri sebelum berbicara dan menebar pandangan mata menyapu wajah semua pimpinan prajurit, pimpinan dari satuan masing-masing. Dari apa yang terjadi itu terlihat betapa besarnya wibawa seorang Gajah Mada.
- Menggunakan kata-kata kias(ungkapan, majas, peribahasa), konotatif, diksi yang emosional

Untuk cerita sejarah sendiri memiliki unsur kebahasaan yang hampir sama seperti unsur kebahasaan novel sejarah hanya saja unsur kebahasaan cerita sejarah tidak banyak menggunakan unsur pada nomer 6 yaitu menggunakan banyak dialog dan 8.

Nilai-Nilai yang Terkandung Dalam Teks Cerita Sejarah

Nilai-nilai yang di maksud adalah sesuatu yang dapat diambil dan di petik dari teks cerita sejarah yang dapat berguna dalam kehidupan sehari hari. Nilai-nilai tersebut tidak ditulis secara langsung. Namun diletakkan secara implisit atau tersirat dalam alur, latar,  tokoh,  dan tema. Adapun nilai-nilai yang terdapat di dalam teks cerita sejarah.

1.Nilai Budaya

Adalah nilai yang dapat memberikan atau mengandung hubungan yang mendalam dengan suatu masyarakat, peradaban atau kebudayaan. (kebiasaan individu, kelompok, bangsa)
Contoh :
Dan bila orang mendarat dari pelayaran, entah dari jauh entahlah dekat,  ia akan berhenti di satu tempat beberapa puluh langkah dari dermaga.  Ia akan mengangkat sembah di hadapannya berdiri Sela Baginda, sebuah tugu batu berpahat dengan prasati peninggalan Sri Airlangga. Bila ia meneruskan langkahnya, semua saja jalanan besar yang dilaluinya,  jalanan ekonomi sekaligus militer.  Ia akan selalu berpapasan dengan pribumi yang berjalan tenang tanpa gegas, sekalipun di bawah matahari terik.
Nilai budayanya adalah kebiasaan bangsa timur bila berjalan selalu tenang tanpa terburu-buru.

2.Nilai Moral/Etika

Adalah nilai yang dapat memberikan atau memancarkan petuah atau ajaran yang berkaitan dengan etika atau moral.
Contoh :
“Juga Sang Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung Wilwatikta tidak bebas dari ketentuan Maha Dewa. Sang Hyang Widhi merestui barangsiapa punya kebenaran dalam hatinya. Jangan kuatir. Kepala Desa! Kurang tepat jawabanku, kiranya? Ketakutan selalu jadi bagian mereka yang tak berani mendirikan keadilan. Kejahatan selalu jadi bagian mereka yang mengingkari kebenaran maka melanggar keadilan. Dua-duanya busuk, dua-duanyasumber keonaran di atas bumi ini...,” dan ia teruskan wejangannya tentang  kebenaran dan keadilan dan kedudukannya di tengah-tengah kehidupan manusia dan para dewa.
Nilai etikanya adalah seseorang yang tidak berani membela kebenaran sama buruknya dengan melakukan kejahatan.

3.Nilai Agama

Adalah nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan atau bersumber pada nilai-nilai agama.
Contoh :
Kala itu tahun 1309. Segenap rakyat berkumpul di alun-alun. Semua berdoa, apa pun warna agamanya, apakah Siwa, Buddha, maupun Hindu. Semua arah perhstian ditujukan dalam satu pandang, ke Purwaktra tidak dijaga terlalu ketat. Segenap prajurit bersikap sangat ramah kepada siapa pun karena memang demikian sikap keseharian mereka. Lebih dari itu, segenap prajurit merasakan gejolak yang sama, oleh duka mendalam atas gering yang diderita Kertarajasa Jawawardhana.
Nilai agamanya adalah agama apapun akan melakukan doa untuk kesembuhan raja.

4.Nilai Sosial

Adalah nilai yang berkaitan dengan tata pergaulan antara individu dalam masyarakat.
Contoh :
Sebagian terbesar pengantar sumbangan, pria, wanita, tua, dan muda, menolak disuruh pulang. Mereka bermaksud menyumbangakan tenaga juga. Maka jadilah dapur raksasa pada malam itu juga. Menyusul kemudian datang bondongan gerobak mengantarkan kayu bakar dan minyak-minyakan. Dan api unggun menyala dalam berpuluh tungku.
Nilai sosialnya adalah kesediaan untuk menyumbang dan membantu.

5.Nilai Estetis

Adalah nilai yang berkaitan dengan keindhan, baik keindahan struktur pembangun cerita, fakta cerita, maupun teknik penyajian cerita.
Contoh :
Betapa megah dan indah bangunan itu karena terbuat dari bahan- bahan pilihan. Pilar-pilar kayunya atau semua bagian dari tiang saka, belandar bahkan sampai pada usuk diraut dari kayu jati pilihan dengan pilihan dengan perhitungan bangunan itu sanggup melewati waktu puluhan tahun, bahkan diharap bisatembus lebih dari seratus tahun. Tiang saka diukir indah warna-warni, kakinya berasal dari bahan batu merah penuh pahatan ukir mengambil tokoh-tokoh pewayangan, atau tokokh yang pernah ada bahkan masih hidup. Bangunan itu berbeda-beda bentuk atapnya, pun demikian dengan bentuk wajahnya. Halaman tiga istana utama itu diaturrapi dengan sepanjang jalan ditanami pohon tanjung, kesara, dan cempaka. Melingkar-lingkar di halaman adalah tanaman bunga perdu.
Nilai estetisnya adalah bangunan yang berbeda-beda bentuk atapnya memberikan kesan gambaran kepada pembaca.

Hal Hal yang Perlu Di Perhatikan Dalam Membuat Teks Cerita Sejarah

Dalam penulisan teks cerita sejarah, perlu diperhatikan hal-hal berikut, yakni :
1.Sesuai dengan kejadian yang sebenarnya (bersifat fakta).
2.Sumbernya harus valid atau terpercaya.
3.Harus berdasarkan penelitian yang kredibel.
4.Struktur
5.Kebahasaan
6.Nilai-nilai yang terkandung
7.Unsur instrinsik dan ekstrinsik

Selanjutnya langkah langkah dalam menulis teks cerita sejarah antara lain.
1.Menentukan topik cerita sejarah yang akan ditulis
Contoh: topik olahraga
2.Menentukan tujuan penulisan teks cerita sejarah
Contoh: menceritakan sejarah terbentuknya FIFA
3.Menggali dan mengumpulkan informasi mengenai topik sejarah yang sudah ditentukan
4.Mengelompokkan atau mengklasifikasi informasi yang didapatkan
5.Menyusun kerangka karangan cerita sejarah yang akan ditulis( sesuai struktur)
6.Mengembangkan
7.Mengedit teks cerita sejarah yang telah ditulis
8.Memublikasikan teks cerita sejarah

Untuk contoh teks cerita sejarah Kepergian Sang Aktivis Setelah Meneriakkan Reformasi
Back To Top