Tempatnya Berbagai Info Penulis

Rabu, 04 Juli 2018

Tinjauan tentang Siswa Tunadaksa : Pengertian, Jenis-Jenis, dan Karakteristiknya

 
1.    Pengertian Siswa Tunadaksa

Siswa adalah “anak atau orang yang sedang belajar, bersekolah (KamusBesarBahasaIndonesia, 2008). Dalam UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas disebutkan pada Pasal 1 poin 4 bahwa siswa merupakan anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. Sementara menurut Dahlan (2015) siswa adalah orang yang datang ke suatu lembaga untuk memperoleh atau mempelajari bebera tipe pendidikan. Dari tiga definisi di atas dapat disimpulkan bahwa siswa adalah anak atau orang yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.
Tunadaksa adalah bentuk kelainan atau kerusakan pada sistem otot, tulang, dan sendi yang bersifat primer atau sekunder yang dapat mengakibatkan gangguan koordinasi, komunikasi, adaptasi, mobilisasi, dan gangguan perkembangan keutuhan pribadi (Assjari, 1995:34). Sementara itu menurut Somantri (2007:121) tunadaksa merupakan suatu kondisi yang menghambat kegiatan individu sebagai akibat kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot, sehingga mengurangi kapasitas normal individu untuk mengikuti pendidikan dan untuk berdiri sendiri. Somantri membedakan pengertian tunadaksa ini dengan pengertian cerebral palsy. Pengertian tunadaksa menurut Somantri di atas lebih kepada tunadaksa dengan gangguan sistem musculus skeletal. Sedangkan Assjari pada pengertian tunadaksa di atas dimaksudkan mencakup semua jenis tunadaksa baik yang gangguan sistem musculus skeletal maupun yang gangguan sistem cerebral.
Pengertian tunadaksa yang lain diungkapkan Nursalim dkk (2007:142) bahwa tunadaksa adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada alat gerak (tulang, sendi, otot) sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Jika mereka mengalami gangguan gerakan karena kelayuan pada fungsi syaraf otak, mereka disebut cerebral palsy (CP).
Berdasarkan beberapa pengertian tunadaksa di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tunadaksa adalah bentuk kelainan atau kerusakan pada sistem otot, tulang, dan sendi yang bersifat primer atau sekunder yang dapat mengakibatkan gangguan koordinasi, komunikasi, adaptasi, mobilisasi, dan gangguan perkembangan keutuhan pribadi sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan khusus.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa siswa tunadaksa adalah anak atau orang yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia yang mengalami bentuk kelainan atau kerusakan pada sistem otot, tulang, dan sendi yang bersifat primer atau sekunder yang dapat mengakibatkan gangguan koordinasi, komunikasi, adaptasi, mobilisasi, dan gangguan perkembangan keutuhan pribadi sedemikian rupa sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

2.    Jenis-Jenis Siswa Tunadaksa

Assjari (1995:35) mengklasifikaskan tunadaksa dilihat dari sistem kelainannya menjadi tiga jenis, yaitu kelainan pada sistem serebral (cerebral system disorder), kelainan pada sistem otot dan rangka (musculus skeletal system), dan kelainan karena bawaan (congenital deformities). Sementara Somantri (2007:121) membagi tunadaksa menjadi dua, yakni tunadaksa dan cerebral palsy. Yang dimaksud tunadaksa dalam Somantri yaitu sama dengan kelainan pada sistem otot dan rangka (musculus skeletal system) dalam Assjari. Cerebral palsy dalam Somantri adalah kelainan pada sistem serebral (cerebral system disorder) dalam Assjari.

a.    Kelainan pada Sistem Serebral (cerebral system disorder)

Letak penyebab kelainan ini berada di dalam sistem saraf pusat. Adanya kelainan pada sistem saraf pusat mengakibatkan adanya kelainan gerak, sikap, ataupun bentuk tubuh, gangguan koordinasi, terkadang disertai gangguan psikologis atau sensoris.

b.    Kelainan pada Sistem Otot dan Rangka (musculus skeletal system)

Letak penyebab kelainan ini hanya pada sistem otot dan rangka dan bukan karena kelainan sistem saraf pusat. Anggota tubuh yang biasanya mengalami kelainan yaitu kaki, tangan, sendi, dan tulang belakang.

Baca Juga : Pendidikan Jasmani Adaptif (Pengertian, Manfaat, dan Karakteristik)

3.    Karakteristik Siswa Tunadaksa

Karakteristik tunadaksa menurut Assjari (1995:63) dijabarkan ke dalam beberapa aspek, antara lain perkembangan fisik, perkembangan kognitif, perkembangan sosial, dan perkembangan bahasa atau bicara.

a.    Perkembangan Fisik

Secara umum dapat dikatakan bahwa perkembangan fisik siswa tunadaksa hampir sama dengan siswa normal kecuali pada bagian tubuh tertentu yang mengalami kerusakan atau bagian tubuh lain yang terpengaruh oleh kerusakan tersebut (Somantri, 2007:126). Dengan kata lain, kondisi fisik siswa tundaksa dapat berkembang normal, kecuali pada bagian tubuh yang mengalami kelainan atau hambatan.
Menurut Assjari (1995:71), siswa tunadaksa dengan kelainan pada sistem otot dan rangka bentuknya antara lain berupa kelumpuhan otot, kerusakan otot, dan kelemahan otot. Kelainan-kelainan tersebut mengganggu gerakan, baik gerak lokomosi, gerak di tempat, maupun gerak mobilisasi. Sementara itu, siswa tunadaksa dengan kelainan pada sistem serebral memiliki hambatan perkembangan fisik berupa gangguan motorik dan gangguan sensoris (Astati, 2009:9). Gangguan motorik terjadi karena adanya kerusakan di bagian pyramidal trac dan atau extrapyramidal di otak sehingga menyebabkan adanya kekakuan, kelumpuhan, gerak tak terkontrol, gerak ritmis, dan gangguan keseimbangan. Sedangkan gangguan sensoris juga disebabkan adanya gangguan di otak sehingga terjadi gangguan penglihatan, pendengaran, atau perabaan.

b.    Perkembangan Kognitif

1)   Perkembangan Kognitif Siswa Tunadaksa Musculus Skeletal System  (kelainan sistem otot dan rangka)
Pada sebagian besar siswa tunadaksa jenis ini, kondisi ketunadaksaannya tidak langsung menyebabkan kesulitan belajar dan menghambat perkembangan intelegensi (Somantri, 2007:129). Astati (2009:6) mengungkapkan bahwa pada umumnya tingkat kecerdasan siswa tunadaksa yang mengalami kelainan pada sistem otot dan rangka adalah normal sehingga dapat mengikuti pelajaran sama dengan anak normal. Sebagian besar siswa dengan gangguan sistem otot dan rangka berkecerdasan normal. Hal ini karena kelainan yang dialami oleh siswa tunadaksa jenis ini tidak berhubungan langsung dengan otak (Assjari, 1995:72).
2)   Perkembangan Kognitif Siswa Tunadaksa Cerebral System Disorder (kelainan sistem saraf pusat)
Dari beberapa data, diketahui kondisi intelegensi cerebral palsy yaitu 45% mentally defective (keterlambatan mental), 30% borderline(ambang batas bawah intelegensi normal), dan 25% normal atau di atas normal (Assjari, 1995:68). Kurva hasil pengukuran intelegensi cerebral palsy menunjukkan bahwa semakin tinggi IQ semakin sedikit jumlahnya. Hal inisesuaidengan yang dikemukakan oleh Hallahan dan Kauffman (1994:425) bahwasiswatunadaksadengankelainansistemsarafkebanyakanmemilikihambatanintelektual dan perseptual. Meskipun demikian, menurut Assjari (1995:68) tidak ditemukan hubungan secara langsung tingkat kelainan fisik dengan kecerdasan atau intelegensi cerebral palsy. Dengan kata lain, meskipun kondisi cerebral palsy berat bukan berarti memiliki intelegensi yang rendah.
Anak cerebral palsy mengalami kelainan pada otaknya. Adanya kelainan ini mengganggu fungsi kecerdasan, penglihatan, pendengaran, rabaan, bicara, dan juga bahasa. Akibatnya perkembangan kognitif pun otomatis menjadi terganggu.

c.    Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial siswa tunadaksa berkaitan erat dengan konsep diri (Assjari, 1995:71). Dikatakan oleh Assjari bahwa konsep diri merupakan penilaian seseorang terhadap dirinya. Konsep diri bukanlah bawaan, melainkan diperoleh melalui interaksi dengan lingkungan.
Sikap orang tua, keluarga, teman sebaya, teman sekolah, dan masyarakat pada umumnya sangat berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri siswa tunadaksa (Somantri, 2007:132). Hal yang sama juga diungkapkan oleh Hallahan dan Kauffman (1994:425) bahwa sikap siswa tunadaksa terhadap lingkungan sosialnya bergantung pada bagaimana sikap orang tua, keluarga, teman sebaya, teman sekolah, dan masyarakat secara umum.Siswa tunadaksa dapat menghargai dirinya sendiri apabila lingkungan menghargainya. Demikian pula sebaliknya, apabila lingkungan memberikan respon negatif terhadap keberadaan siswa tunadaksa, maka konsep diri negatif dapat terbentuk pada siswa tunadaksa dan menyebabkan perilaku sosial yang negatif.

d.   Perkembangan Bahasa atau Bicara

Pada siswa tunadaksa dengan kelainan sistem otot dan rangka, perkembangan bahasa atau bicaranya tidak begitu berbeda dengan siswa normal. Lain halnya dengan siswa tunadaksa dengan kelainan sistem serebral, sebagian besar dari mereka menunjukkan adanya gangguan bicara (Somantri, 2007:130). Menurut Assjari (1995:70) dan Astati (2009:7), terdapat tiga penyebab adanya gangguan bicara atau bahasa, yaitu:
   1) Adanya kelainan motorik pada otot-otot organ bicara, misalnya lumpuh atau kaku pada lidah, bibir, dan rahang bawah, sehingga mempersulit dalam berucap secara lisan.
2) Adanya ketidakmampuan meniru bicara orang lain, baik karena lemahnya persepsi, kurangnya interaksi dengan orang lain, maupun karena faktor lainnya.
3) Ada kelainan di pusat bicara di otak sehingga mempengaruhi proses bicara. Contoh kelainan ini yaitu aphasia sensoris, yakni ketidakmampuan bicara karena organ reseptor terganggu fungsinya, dan aphasia motorik yang merupakan ketidakmampuan mengungkapkan suatu informasi secara lisan.
Baca Juga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Back To Top